Ada Lumpia Antara Bonek dan Piala Presiden

Ada Lumpia Antara Bonek dan Piala Presiden
Jualan Lumpia di Piala Presiden. (ist)

BRITO.ID, BERITA SURABAYA - "Lumpiaa... lumpiaa... lumpia lumpia lumpia..."
"Lumpiaa... lumpiaa... lumpia lumpia lumpia..."

Suara itu sudah tidak asing lagi terdengar di setiap laga Persebaya bermain di Surabaya. Dulu, sebelum ada Gelora Bung Tomo, bahkan sejak tahun 1990-an, "Green Force" (julukan Persebaya) bermain di Stadion Gelora 10 Nopember, di Jalan Tambaksari.

Di stadion berkapasitas 25 ribu orang itu, gorengan yang khas dengan daun bawang dan cabai rawit tersebut seolah menjadi menu wajib bagi penonton, tak terkecuali bonek dan bonita yang selama 90 menit tak berhenti bernyanyi.

Saat sebelum "kick off", saat jeda pertandingan dan saat wasit usai meniup peluit akhir, pedagang lumpia menjadi yang paling diburu. Kalau tidak "gercep" (gerak cepat) ya siap-siap tak kebagian dan melongo lihat orang makan.

Apalagi setiap orang sangat jarang beli hanya satu biji, ditambah bungkus kertas minyak coklat yang dipincuk, plus sambal khas lumpia yang membuat rasanya semakin sedap.

Harganya juga unik dan sejak zaman di Tambaksari sudah bervariasi. Bukan karena ukuran dan rasa, tapi tergantung jam pembelian. Dulu, di Gelora 10 Nopember, sebelum pertandingan harga per bijinya mencapai Rp3.000, lalu jeda pertandingan tinggal Rp2.000, dan usai pertandingan malah Rp1.000.

Sekarang di Gelora Bung Tomo, sebelum pertandingan Rp10 ribu dapat empat biji atau Rp2.500 per bijinya, dan akhir laga tidak sedikit yang menjual Rp1.000 per bijinya. Bedanya, di GBT dijual lumpia dengan varian ukuran maupun rasa. Khusus yang agak besar Rp5.000 dan biasanya diperdagangkan di tribun VIP.

Edi, salah seorang pedagang lumpia ketika ditemui di GBT mengaku setiap Persebaya bertanding selalu membawa lebih dari 100 biji dan habis saat pulang. Ia tidak memproduksi sendiri sehingga harus setor ke agen lumpia.

"Saya ambilnya di Gresik dan nanti setor. Banyak kok mas orang yang di sana juga. Tapi kami senang setiap Persebaya tanding, karena selalu laku," ujarnya.

Rahman Rizky, salah seorang penonton di tribun VIP mengaku tak bisa lepas dari lumpia setiap pertandingan. Ia bahkan telah menyiapkan pecahan uang Rp10 ribu-an agar mudah membeli karena tidak jarang harus berebut dengan penonton lain.

"Kalau sudah istirahat, tak ada yang dikerjakan. Makanya sambil nunggu 15 menit, penonton makan dan cari lumpia. Kadang pedagangnya bingung karena banyak yang memanggil. Ada juga penonton yang justru meninggalkan kursinya mencari pedagang lumpia agar tidak kehabisan," ucapnya.

Amro, salah seorang rekan saat "mbonek" (sebutan bagi bonek yang datang ke stadion), bercerita bahwa lumpia tak sekadar gorengan untuk mengganjal perut kosong saat di tribun, tapi mampu memberdayakan ekonomi masyarakat sekaligus sebagai ajang saling membantu.

Betapa tidak, saat ia melihat sekelompok penonton mencari lumpia dan terdapat pedagang di depannya, tapi malah memanggil pedagang lumpia lain yang jaraknya sebenarnya lebih jauh.

"Kenapa mereka tidak memanggil pedagang yang dekat? ternyata lumpia di bakulnya sudah mau habis, sedangkan yang pedagang agak jauh masih banyak. Bonek hebat ternyata, karena punya rasa adil dan saling membantu dengan memilih pedagang lumpia yang masih banyak agar sama-sama larisnya," katanya.

Berartinya lumpia memang sangat terasa, di tribun kerap namanya dicantumkan dalam spanduk dan poster yang dibentangkan bonek. Pernah di awal Liga 2 musim kompetisi 2017, satu tulisan yang cukup menggelitik dan mengena dari suporter sebagai bentuk protes ke manajemen karena menaikkan harga tiket pertandingan.

"Tiket naik tinggi, lumpia tak terbeli". Begitu isi poster dibentangkan bonek yang ternyata cukup membuat kuping manajemen panas. Tapi, saat itu manajemen tetap mematok harga tiket, yakni tribun ekonomi Rp50 ribu dan VIP Rp250 ribu, yang bertahan hingga sekarang.


Kreativitas Bonek

Ribuan, bahkan puluhan ribu orang berbondong-bondong ke stadion GBT niatnya tak hanya menyaksikan tim kesayangan berlaga, tapi juga melihat bagaimana aksi-aksi bonek yang berkreasi.

Di Piala Presiden 2019, Persebaya berhak memainkan laga di kandang sendiri karena tampil sebagai juara grup A. Ruben Sanadi dan kawan-kawan meraih tujuh poin hasil dua kali menang dan sekali seri. Persebaya berhak di peringkat pertama, diikuti PS Tira Persikabo, Persib Bandung (tuan rumah) dan Perseru Serui.

Jadwal delapan besar sudah diputuskan. "Bajul Ijo" harus kembali bertemu PS Tira Persikabo yang di babak penyisihan grup sukses menahan imbang dengan skor 0-0. Tapi, di Surabaya, disaksikan puluhan ribu penonton setianya, Persebaya menang 3-1 dan berhak lolos semifinal.

Lawan PS Tira Persikabo digelar Jumat, 29 Maret 2019. Terasa spesial karena laga itu seolah menjadi pelepas dahaga setelah lama tak menyaksikan Persebaya bermain di GBT, khususnya pascaliga 1 berakhir tahun lalu.

Tak tanggung-tanggung, di laga sekelas turnamen pramusim, penonton yang hadir mencapai 43 ribu orang lebih, yang merupakan penonton terbanyak sejak Piala Presiden 2019 digelar, sampai babak perempat final.

Di sela laga, adu yel-yel dan nyanyian bonek menjadi hiburan sendiri bagi siapapun yang hadir langsung, tak terkecuali pemain yang bermain di lapangan hijau.

"Bonek luar biasa dan saya sangat takjub dengan aksi-aksi mereka. Saat bola jauh dari posisi saya, biasanya saya sempatkan melirik ke tribun dan melihat mereka mendukung. Saya cinta bonek," kata Otavio Dutra, pemain andalan Persebaya di lini belakang.

Di pertandingan sama, saat wasit baru meniup 45 menit babak pertama berakhir, puluhan ribu bonek melakukan aksi lempar boneka ke sisi lapangan. Tujuannya, boneka yang layak akan disumbangkan kepada anak-anak penderita kanker di Surabaya, serta di beberapa kota lainnya.

Organisasi PBB yang fokus menangani permasalahan anak, UNICEF, tak lepas memberikan pujian dan mengapresiasi aksi bonek. Terkumpul sekitar 20 ribu boneka dari bonek yang keesokannya langsung disumbangkan.

Koreo-koreo dari bonek-bonita pun tak luput dari perhatian. Nyanyian-nyanyian penyuntik semangat pemain tak berhenti disuarakan. Tak ada lagu-lagu bernada rasis, apalagi sampai menghina suporter lain. Ini menunjukkan sudah dewasanya bonek. Dari yang dianggap "maling gorengan", tapi justru mampu membuat decak kagum dan memaksa siapa saja yang melihatnya akan angkat topi.

Di babak semifinal putaran pertama yang berlangsung Rabu, 3 April 2019, kembali bonek "berulah". Ulah bonek semakin mendapat pujian karena koreo dan aksi terbaru dipertontonkan. Tak hanya adu yel-yel antartribun, tapi aksi minutes of silence atau diam selama semenit pada menit ke-19 dilakukan dengan khidmat.

Aksi itu untuk menghormati mendiang Eri Irianto, legenda Persebaya dengan ciri khas tendangan bledek yang pada 3 April 2000 atau tepat 19 tahun lalu meninggal dunia di lapangan saat bermain melawan PSIM Yogyakarta di Stadion Gelora 10 Nopember Surabaya.

Eri Irianto didiagnosa menderita gagal jantung dan dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit tidak lama setelah dilarikan dari lapangan menggunakan ambulans.

Nomor 19 kini menjadi keramat di Persebaya. Sebagai bentuk penghormatan, tak boleh ada siapapun mengenakan nomornya, dan kostum terakhirnya dipajang di lemari kaca ruang depan Wisma Eri Irianto, yang merupakan nama tempat istirahat dan lapangan yang sebelumnya bernama Wisma Karanggayam.

Sebanyak 50 ribu bonek terdiam. Tak ada suara dari tribun dan semuanya berdoa dan berharap agar nyawa Eri Irianto selalu tenang dan diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Tuan rumah sukses meraih hasil positif usai mengalahkan Madura United dengan skor 1-0.

Bonek pun sukses mencatatkan rekor jumlah penonton terbanyak di Piala Presiden edisi keempat ini. Sebelum Persebaya bertanding, laga PSS Sleman melawan Persija Jakarta di Stadion Maguwoharjo, Sleman, berjumlah 29.120 pasang mata.

Tapi, saat Persebaya menjamu PS Tira, jumlah penontonnya melebihi 100 persen dari yang di Sleman. Total, sebanyak 43.230 orang menyaksikan langsung di stadion dengan hasil pendapatan dari tiket mencapai Rp2.161.500.000. Sedangkan, jumlah pedagang asongan 450 orang, pedagang kaki lima 350 orang dan 50 unit stan pasar bonek.

Lima hari kemudian, kembali Persebaya yang lolos ke semifinal bermain di Surabaya. Lagi-lagi rekor jumlah penonton terpecahkan. Sejak hari pertama pemesanan tiket daring (online), khusus tribun ekonomi sudah "sold out" atau ludes terjual.

Pada 3 April 2019 melawan Madura United, jumlah suporternya mencapai 50 ribu pasang mata dengan pendapatan hingga Rp2,5 miliar. Angka itu sekaligus memastikan jumlah penonton dan pendapatan terbanyak di ajang Piala Presiden 2019 karena selain Persebaya, tiga tim lainnya, yaitu Kalteng Putra, Arema FC dan Madura United daya tampung stadion tak melebihi GBT.

"Ini membuktikan loyalitas dan totalitas bonek terhadap Persebaya. Saya bangga terhadap Persebaya dan bonek," kata presiden klub, Azrul Ananda.

Anggota SC Panitia Piala Presiden 2019, Cahyadi Wanda, mengakui jumlah penonton di Surabaya tercatat sebagai rekor terbesar pada satu pertandingan.

"Surabaya sangat luar biasa. Lawan PS Tira Persikabo bermain sore dan hari kerja, tapi penontonnya sangat luar biasa. Terima kasih Surabaya," tukasnya.


Piala (calon) Presiden

Diakui atau tidak, suka atau tidak suka, jika dikaitkan, Piala Presiden adalah Piala Joko Widodo. Ya, sebab Jokowi adalah Presiden RI.

Saat ini, Jokowi juga tercatat sebagai salah seorang calon presiden dan maju di Pemilihan Presiden 2019 bersama pasangannya, KH Ma'ruf Amin.

Jokowi-Ma'ruf pasangan nomor urut 01, sedangkan pesaingnya di nomor urut 02 adalah Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Tapi, di sini tidak membahas masalah politik. Semua pihak terlibat harus profesional bahwa turnamen ini murni olahraga. Jangan mencampurkan urusan politik dan olahraga, sebab apapun pilihan politiknya, tetap di olahraga menjunjung tinggi sportivitas.

Jadi teringat Hanifan, atlet pencak silat yang sukses meraih medali emas di ajang Asian Games 2018. Di pertandingan puncak di padepokan silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Hanifan sukses mengibarkan sang merah putih.

Bahkan, pesilat asal Jawa Barat tersebut secara spontanitas berlari ke tribun kehormatan yang saat itu duduk bersebelahan, Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Kedua capres itu dipeluk bersamaan, dan terasa istimewa karena di punggung Hanifan berbalut bendera merah putih. Pemandangan langka yang tak hanya menjadi sorotan publik Tanah Air, tapi juga luar negeri. Foto dan videonya viral di media sosial.

Dari paparan panitia sejak awal turnamen, bahkan sejak edisi pertama digelar 2015, salah satu misi utama Piala Presiden adalah konsisten terhadap transparansi, baik dari sisi keuangan maupun penyelenggaraan.

"Bahkan, hasil semuanya akan diaudit oleh lembaga independen, lalu diumumkan secara terbuka. Budaya ini yang diharapkan terus dilanjutkan di sepak bola Indonesia," kata Cahyadi Wanda.

Sekadar informasi, juara pertama di ajang ini berhak meraih Rp3,3 miliar, lalu runner up Rp2,2 miliar (mengacu musim lalu), sedangkan dua tim kalah di semifinal meraih Rp750 juta, ditambah hadiah pemain terbaik dan pemain muda terbaik.

Bahkan, penyelenggara juga memberikan "match fee" di setiap laga sejak babak penyisihan, yakni Rp125 juta kepada tim pemenang, Rp75 juta kepada tim kalah, serta masing-masing Rp100 juta jika kedua tim bermain imbang.

Klub yang bertindak sebagai tuan rumah fase grup berhak mendapatkan subsidi Rp800 juta, lalu tim bukan tuan rumah mendapat subsidi perjalanan dan transportasi sebesar Rp100 juta, kecuali Persipura Jayapura dan Perseru Serui masing-masing Rp125 juta.

Lantas yang jadi pertanyaan, apakah tahun depan turnamen yang tujuan awalnya menyelematkan sepak bola Indonesia usai disanksi oleh FIFA itu terus digelar? mengingat presiden dan wakil presiden memasuki jilid baru, yakni periodesasi 2019-2024.

Menarik untuk ditunggu turnamen musim depan. Siapapun presidennya, Jokowi atau Prabowo, diharapkan selalu rutin digelar. Laga-laganya menarik untuk disaksikan, hasil-hasilnya juga kerap terjadi kejutan. Pemain-pemainnya berkualitas dan cara bermainnya juga berkelas.

Dan yang harus diingat, jangan sampai menjadikan olahraga sebagai alat komoditas politik, tapi justru gunakan olahraga sebagai pemersatu politik. (red)