Sebut Ustadz Abdul Somad Mirip Dajjal, Kontraktor Kondang Riau jadi Tersangka

 Sebut Ustadz Abdul Somad Mirip Dajjal, Kontraktor Kondang Riau jadi Tersangka
Joni Boyok ditetapkan tersangka karena menyebut UAS mirup Dajjal. (riaunews.com)

BRITO.ID, BERITA PEKANBARU - Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Riau menetapkan JB, seorang warga Pekanbaru sebagai tersangka. Dia diduga menghina Ustadz Abdul Somad (UAS) melalui unggahannya di media sosial Facebook.

Kepala Bidang Humas Polda Riau, Kombes Pol Sunarto di Pekanbaru, Senin, menjelaskan JB alias Jony Boyok ditetapkan sebagai tersangka, setelah penyidik melakukan gelar perkara kasus tersebut, Senin hari ini.

"Gelar perkara sudah selesai. Terlapor ditetapkan sebagai tersangka," kata Sunarto, seperti dilansir Antara.

Meski telah ditetapkan sebagai tersangka, penyidik Ditreskrimsus Polda Riau dipastikan tidak akan menahan pria berusia 47 tersebut. Sunarto mengatakan ancaman hukuman tersangka yang dijerat dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi dibawah lima tahun, sehinga tidak perlu dilakukan penahanan.

"Ancaman hukumannya dibawah lima tahun sehingga tidak dilakukan penahanan," tuturnya, dilansir Antara.

Terpisah, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau Kombes Pol Arif Gidion Setiawan menjelaskan bahwa tersangka JB dijerat dengan Pasal Penghinaan dan Pencemaran nama baik. "Pencemaran nama baik dan penghinaan," ujarnya singkat.

JB yang diketahui merupakan pengusaha kondang di Kota Pekanbaru itu sebelumnya menyedot perhatian publik Bumi Lancang Kuning. Bukan karena prestasinya, namun karena unggahan provokatif yang ditulis di media sosial Facebook miliknya.

Dalam unggahannya, JB menyebut UAS seperti Dajjal. JB juga menyebut ustadz kondang yang aktif berdakwah melalui berbagai media sosial tersebut sebagai sosok jahat yang tidak pantas jadi panutan.

Tak ayal, unggahan itu mengundang keras reaksi masyarakat. Front Pembela Islam (FPI) Pekanbaru yang berhasil melacak alamat JB akhirnya mendatangi pria yang secara ekonomi terbilang cukup sejahtera tersebut di rumahnya.

FPI selanjutnya menyerahkan JB langsung ke Ditreskrimsus Polda Riau pada awal September 2018 lalu. Selain FPI, Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) juga turut angkat suara dan menyatakan perbuatan JB sangat menyakiti perasaan umat muslim.

Bahkan, LAMR meminta agar JB segera angkat kaki dari Bumi Lancang Kuning, Provinsi Riau atas perbuatannya tersebut. Sementara itu, JB dalam pembelaannya mengaku menyesali perbuatannya. JB juga meminta maaf atas unggahannya itu setelah kasusnya ditangani kepolisian. (red)