Terdakwa Pelaku Kredit Fiktif Ngaku Diperintah Bos Bank Mandiri Jambi

Terdakwa Pelaku Kredit Fiktif Ngaku Diperintah Bos Bank Mandiri Jambi
Sidang kredit fiktif Bank Mandiri. (Hendro/Brito.id)

BRITO.ID, BERITA JAMBI - Sidang kasus kredit fiktif yang terjadi di PT Bank Mandiri Persero, KCP Sumber Agung Tebo, kembali berlanjut. Agendanya pemeriksaan terdakwa sebagai saksi.

Empat dari 5 terdakwa diperiksa sebagai saksi untuk terdakwa Gerry, yang merupakan kepala Bank Mandiri KCP Sumber Agung Tebo. Di hadapan majelis hakim yang dipimpin Erika Emsah Ginting, empat terdakwa yang masing-masing merupakan marketing bank mengakui jika seluruh berkas dan dokumen calon nasabah yang diduga fiktif tersebut didapat dari terdakwa Gerry.

"Kami semua mendapat calon debitur dikasih pak gerry. Beliau yang survei, dan melakukan seluruh persyaratannya," kata keempat marketing, Senin (22/4). 

Terdakwa David Yuliadi yang diperiksa sebagai saksi menyatakan dirinya hanya mencairkan sebanyak 2 debitur, yang diberikan terdakwa Gerry. Sementara terdakwa Dedi Irawan mengaku telah mencairkan 5 orang debitur dengan kisaran dana mencapai 50 juta. 

Sedangkan terdakwa Indro Marvianto, mengaku telah mencairkan sebanyak 3 nasabah dengan kisaran uang yang dicairkan mencapai 400 juta. Terakhir terdakwa Panji Pradana lebih besar, yakni sebanyak 500 juta lebih, dari 7 nasabah yang diminta terdakwa Gerry.

"Kami semua sebagai marketing. Sebelumnya kalau ada calon nasabah selalu bertemu dengan nasabah tersebut. Tapi dari calon nasabah yang diberikan terdakwa Gerry, tidak pernah ketemu langsung," ungkap Dedi.

Namun pada saat giliran terdakwa Gerry diperiksa sebagai saksi, ia membantah seluruh pengakuan keempat marketingnya. Bahkan ia juga membantah keterangan saksi dipersidangan sebelumnya.

"Semua kesaksian mereka tidak benar. Saya tidak pernah memberi dokumen nasabah ke mereka," katanya.

Dalam perkara ini, para terdakwa dinyatakan secara bersama-sama melakukan tindak pidana korupsi, yakni mencairkan dana dengan menggunakan data nasabah yang telah lunas kreditnya, atau ditolak bank. Aas perbuatan terdakwa negara dirugikan hingga mencapai Rp2.4 miliar. (red)

Kontributor: Hendro