Gegara SMS, Rasmin Petani Bahar Selatan ini Tewas Digorok

Gegara SMS, Rasmin Petani Bahar Selatan ini Tewas Digorok
Kapolres Muarojambi AKBP Mardiono memberikan keterangan pers, Senin (9/9/19). (Romi/Brito.id)

BRITO.ID, BERITA MUAROJAMBI - Rahmin (39) warga RT 09 Desa Ujungtanjung Kecamatan Bahar Selatan meregang nyawa dengan luka akibat senjata tajam di bagian lehernya. 

Rasmin meninggal dunia setelah lehernya digorok Slamet Riva'i (34). Peristiwa pembunuhan ini terjadi pada Kamis (5/9/19) yang lalu sekitar pukul 16.00 WIB. 

"Untuk pelaku sendiri saat ini sudah kita amankan. Pelaku atas nama Slamet Riva'i bin Adnan warga RT 07 Desa Ujungtanjung Kecamatan Bahar Selatan. Pelaku kita amankan di lokasi kejadian," ungkap Kapolres Muarojambi AKBP Mardiono Senin (9/9/19).

Diceritakan Kapolres, peristiwa ini bermula saat Habibullah kakak dari Slamet mendapat laporan dari istrinya Cici pada Kamis (5/9/19) sekitar pukul 14.30 WIB. 

Kepada Habibullah Cici mengatakan kalau dia mendapat SMS dari korban. Ketika dibaca isi sms itu dianggap kurang sopan oleh Habibullah. Selanjutnya Habibullah pun membalas sms tersebut dan mengajak Rasmin ketemu untuk klarifikasi.

"Karena dianggap tidak pantas Habibullah coba sms Rasmin dan ajak ketemuan untuk klarifikasi. Korban pun membalas dan akhirnya tempat ketemuan pun ditentukan," kata Kapolres.

Sebelum bertemu korban, Habibullah menemui adiknya Slamet dan menunjukkan sms tersebut. Setelah membaca sms tersebut, tersangka Slamet langsung mengajak Habibullah untuk menemui Rasmin di tempat yang sudah dijanjikan yakni kavlingan sawit milik kakaknya Habibullah. 

Kemudian, saksi pun pergi ke TKP bersama tersangka Rivai dengan berboncengan sepeda motor. Tak jauh dari TKP pelaku minta diturunkan dan selanjutnya pelaku berjalan kaki melewati jalan setapak menuju ke lokasi pertemuan. Sebelum menemui korban pelaku sempat bersembunyi di balik pohon kelapa sawit. 

"Pelaku nih sempat mengintip dulu di balik pohon sawit. Setelah melihat korban pelaku keluar dari persembunyian dan menemui korban untuk mengklarifikasi perihal SMS itu," urai Kapolres.

Saat itu, korban tidak mengaku kalau dialah yang mengirimi SMS kepada Cici. Pelaku selanjutnya memanggil kakaknya dan Habibullah pun turut menanyakan hal serupa. Setelah didesak akhirnya korban mengaku kalau memang dialah yang mengirim sms ke Cici tersebut.

"Akhirnya saksi Habibullah dan tersangka mengajak korban ke kantor desa untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Namun saat hendak dibonceng untuk pergi ke kantor desa, tiba-tiba korban langsung mencekik saksi," cerita Kapolres. 

Selanjutnya, sambung Kapolres, tersangka meminta korban untuk melepaskan cekikannya di leher saksi namun tidak diindahkan korban. Akhirnya korban dan saksi pun terjatuh. Pada saat terjatuh posisi korban masih mencekik saksi. 

"Melihat kejadian tersebut Slamet langsung menarik sebilah pisau dari pinggang kiri pakai tangan kanan dan menempelkan pisau ke leher korban sambil meminta korban melepakan cekikan. Korban berontak tidak mau lepaskan, semakin lama tekanan pisau di leher semakin dalam sehingga korbanpun akhirnya meninggal dunia," cetus Perwira dengan dua melati di pundaknya ini.

Polisi yang mendapat laporan langsung menuju ke TKP. Setiba di sana polisi dapati pelaku ternyata masih berada di TKP dan langsung menyerahkan diri. Bersama pelaku turut diamankan beberapa barang bukti di antaranya pisau sepanjang kurang lebih 40 cm, pakaian korban, dua unit telepin genggam milik korban dan Cici serta pakaian milik Slamet.

"Pelaku kita jerarlt dengan pasal 388 KUHPidana dengan ancaman 15 tahun penjara," pungkas Kapolres. (RED)

Kontributor : Romi R