Kasus Pemerkosaan Turis Prancis mengancam Tingkat Kunjungan Labuan Bajo

KUPANG - Dinas Pariwisata dan Asosiasi Perjalanan Wisata Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memastikan jumlah kunjungan wisata di Labuan Bajo, Pulau Komodo di Manggarai Barat Pulau Flores dan sejumlah destinasi lainnya di provinsi seribu nusa itu akan terganggu, jika penegakan hukum terhadap pemerkosa wisatawan asal Prancis tidak dilakukan maksimal dan terbuka.

Kasus Pemerkosaan Turis Prancis mengancam  Tingkat Kunjungan Labuan Bajo

BRITO.ID,KUPANG - Dinas Pariwisata dan Asosiasi Perjalanan Wisata Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memastikan jumlah kunjungan wisata di Labuan Bajo, Pulau Komodo di Manggarai Barat Pulau Flores dan sejumlah destinasi lainnya di provinsi seribu nusa itu akan terganggu, jika penegakan hukum terhadap pemerkosa wisatawan asal Prancis tidak dilakukan maksimal dan terbuka.

Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Timur Beny Wahon mengatakan kejadian yang menimpa wisatawan asal Prancil berinisial M di Labuan Bajo telah merusak citra daerah itu yang telah ditetapkan sebagai salah satu dari 10 destinaai unggulan Indonesia.

Penetapan destinasi unggulan oleh Presiden Joko Widodo itu harusnya direspons secara baik dan bermartabat oleh warga di daerah itu. Semua pihak sebut dia harus bisa bersama-sama menjaga kondisi di daerah masing-masing terutama di kantong-kantong destinasi wisata seperti di Labuan Bajo agar bisa berjalan baik dan menjadi daya pikat.

"Bukan malah sebaliknya menjadi hal yang menakutkan karena dinilai tak nyaman bagi wisatawan yang berkunjung ke destinasi," katanya kepada Okezone menjawab tragedi yang menimpa wisatawan mancanegara yang diperkosa oknum berinsial AS.

Di titik itu lanjut dia, aparat penegak hukum yang sedang menangani kasus ini diminta untuk bisa bekerja profesional demi penegakan hukum yang seadil-adilnya dan terbuka agar dunia tahu bahwa penegakan hukum di daerah ini sangat dikedepankan sekaligus mau menyampaikan ke khalayak bahwa Labuan Bajo dan destinaai lain di NTT adalah tempat yang aman dan nyaman untuk menikmati pesona dan keindahannya.

"Kami yakin dan percaya aparat penegak hukum akan lakukan penegakan hukum secara profesional dan penuh rasa keadilan," katanya.

Di sisi lainnya lanjut Beny kejadian yang dialami turis Prancis ini harus menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi pemerintah baik di level provinsi dan kabupaten/kota yang ada untuk melakukan penertiban segala hal terutama bagi para pemandu wisata agar bisa berlalu dengan etika yang wajar dengan mengedepankan kompetensi agar bisa memberi rasa nyaman bagi wisatawan terutama wisatawan mancanegara.

Hal sama disampaikan Sekretaris Asosiasi Perjalanan Wisata (Asita) Provinsi NTT Jetty M Abineno Masu yang mendorong pemerintah dan aparat penegak hukum untuk menuntaskan kasus ini. Hal ini untuk kepentingan mengembalikan kesan negatif kepada situasi keamanan di daerah kita terutama bagi kepentingan kunjungan wisata.

"Saya berempati terhadap korban, terutama sebagai perempuan saya sangat terpukul. Terlebih sebagai pelaku pariwisata sangat disayangkan di saat kita bersama pemerintah menggenjot promosi pariwisata malah kejadian ini yang terjadi," katanya.

Kejadian yang baru pertama kali terjadi di NTT ini sudah sangat mencoreng citra pariwisata di bumi Flobamora yang kaya akan destinasi wisata itu.

"Semoga kejadian ini tidak terulang lagi dan ke depannya keamanan dan kenyamanan wisatawan harus menjadi tanggung jawab kita semua, dan penting diterapkan sertifikat profesi bagi semua lini pelayanan pariwisata kita," katanya.