Kekurangan Kamar, Pasien DBD di Tanjab Barat Dirujuk ke Jambi

Kekurangan Kamar, Pasien DBD di Tanjab Barat Dirujuk ke Jambi
Suasana RSUD Tanjab Barat (Heri Anto/BRITO.ID)

BRITO.ID, BERITA TANJAB BARAT -Akibat kekurangan ruang rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) KH Daud Arif Kualatungkal, pasien DBD terpaksa dirujuk ke Jambi.

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) KH Daud Arif Kualatungkal saat ini hanya memiliki 200 ruang rawat inap. Dengan jumlah ini, dan meningkatnya pasien DBD dalam beberapa minggu terakhir sehingga tak tertampung.

Pihak rumah sakit juga mengaku sudah melakukan upaya penampungan sementara dengan mengunakan Ruang Unit Gawat Darurat Rumah Sakit sebelum dipindahkan ke Ruang inap yang masih kosong.

Edy, paman dari pasien DBD bernama Ipah warga Sungai Saren Kualatungkal, menceritakan, Ipah dirujuk ke RSUD KH Daud Arif dari Klinik Medika, Kualatungkal. Sekitar pukul 19.00 wib, masuk ke UGD dan bersamaan saat itu pula empat orang pasien yang menunggu di UGD belum juga mendapatkan ruangan rawat inap.

"Setelah beberapa waktu menunggu di Ruang UGD, pihak rumah sakit menyarankan rujuk ke Jambi. Saat ditanyakan apa alasan rujukan, pihak medis mengatakan ruangan rawat inap penuh. Begitu juga Ipah yang disarankan untuk rujuk ke Jambi," ungkap Edy kepada awak Media.

Edy juga mengatakan, pihak keluarga pasien sempat menanyakan bagaimana penanganan Medis,? Dokter piket menjawab bahwa jika penanganan medis disini (RSUD KH Daud Arif, red) sanggup, hanya saja ruangan rawat inap yang tidak ada alias penuh.

Terpisah, Humas RSUD KH Daud Arif Suhaimi saat dikonfirmasi adanya Pasien DBD yang sempat menunggu karena tidak kebagian Ruang Rawat Inap mengatakan, jika semua pasien yang sempat bertahan di UGD sudah berada didalam ruangan.

"Idak lah, sudah diruangan lah, ada lah numpang numpang diruang lain," kilahnya.

Suhaimi mengakui bahwa ada Pasien yang dirujuk ke Jambi karena tidak dapat ruang inap. Ia juga menyebutkan Kapasitas ruang rawat inap di RSUD KH Daud Arif 200 pasien. Jika itu penuh maka akan dialihkan keruang lain yang masih kosong.

"Kita maunya pasien tertampung, tapi fasilitas kita kurang. Tidak bisa kita menyalahkan rumah sakit," katanya.

Penulis: Heri Anto

Editor: Rhizki Okfiandi