La Nyalla Ketua DPD Kontroversial, Pernah Jadi Tersangka Hingga Konflik dengan Gerindra

La Nyalla Ketua DPD Kontroversial, Pernah Jadi Tersangka Hingga Konflik dengan Gerindra
La Nyalla. (Istimewa)

BRITO.ID, BERITA JAKARTA - Nyalla Mahmud Mattalitti telah resmi terpilih sebagai terpilih sebagai Ketua DPD periode 2019-2024 menggantikan Oesman Sapta Odang (OSO).

Seperti diberitakan Antara, La Nyalla mengungguli tiga calon ketua DPD terpilih lainnya, yaitu Nono Sampono, Mahyudin, dan Sultan Bachtiar.

Sebelumnya, La Nyalla dipilih secara aklamasi oleh anggota DPD RI Gugus Barat 2, terdiri dari 32 senator asal Lampung, Pulau Jawa, dan Pulau Bali, dalam persidangan subwilayah yang berlangsung di Ruang Komite 2, Gedung B, Komplek Parlemen DPR-MPR RI, Selasa, 1 Oktober 2019.

Terima kasih kepada rakyat Jatim yang telah memberi kepercayaan kepada saya untuk menjalankan amanah ini.

Selanjutnya pada persidangan paripurna, sebanyak 136 anggota DPD RI memilih La Nyala dari empat gugus subwilayah dan menjadi Ketua DPD periode 2019-2024.

La Nyalla lahir dengan nama lengkap La Nyalla Mahmud Matalitti. Ayahnya, Mahmud Mattalitti, merupakan dosen Fakultas Hukum Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Sedangkan kakeknya, Haji Mattalitti, merupakan seorang saudagar besar asal Bugis, Sulsel, yang cukup berpengaruh di Surabaya, Jawa Timur.

Meski berasal dari keluarga berkecukupan, La Nyalla sempat bekerja serabutan. Ia dikenal dengan sifat bengal ketika muda, kemudian menjelma sebagai sosok pengusaha berpengaruh di Surabaya.

Pamor La Nyalla menjadi sorotan saat berkiprah di PSSI. Pria kelahiran 10 Mei 1959 itu pernah menjabat sebagai Ketua Umum PSSI periode 2015-2016, sebelum akhirnya lengser.

Saat di bawah kepemimpinan La Nyalla, PSSI dihadapkan pembekuan atas sanksi yang diberikan oleh Menpora Imam Nahrawi, akibat kebijakan PSSI soal hasil rekomendasi BOPI (Badan Olahraga Profesional Indonesia) yang tidak meloloskan Arema Malang dan Persebaya Surabaya.

Kemudian, muncul kasus dugaan korupsi yang menjerat La Nyalla. Ia diduga menyelewengkan dana hibah Pemerintah Provinsi Jawa Timur tahun 2011-2014, saat menjadi pengusaha dan sebagai Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Jatim.

La Nyalla kemudian ditetapkan tersangka. Kongres Luar Biasa PSSI memaksa mundur pria kelahiran Jakarta itu usai ditetapkan sebagai tersangka. Namun, majelis hakim memvonis bebas Ketua Pemuda Pancasila Jatim itu, dalam persidangan yang digelar Pengadilan Tipikor pada 27 Desember 2016.

Pada Januari 2018, La Nyalla kembali jadi sorotan publik setelah ia terlibat konflik dengan Partai Gerindra, terkait isu mahar politik sebesar Rp 40 miliar, untuk pencalonannya sebagai Calon Gubernur Jawa Timur.

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jawa Timur sampai membuat surat panggilan kepada La Nyalla, saat itu menjabat Ketua Kadin Jawa Timur, untuk mengklarifikasi pernyataan terkait mahar politik yang diduga diminta oleh Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Bawaslu memanggil La Nyalla melalui surat pemanggilan bernomor 011/K.JI/PM.01.01/1/2018 tertanggal 12 Januari 2018.

La Nyalla, yang juga kader Partai Gerindra, mengaku dimintai Rp 40 miliar oleh Prabowo Subianto di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, untuk membayar saksi pilkada. Dana ini disebut sebagai syarat rekomendasi Gerindra untuk maju sebagai calon kepala daerah di Jawa Timur.

Jika dana itu tidak diserahkan sebelum 20 Desember 2017, La Nyalla tidak akan mendapatkan rekomendasi Gerindra untuk maju pada Pilkada Jatim 2018.

Namun, La Nyalla hanya mengirim utusan ke Badan Pengawas Pemilu Provinsi Jatim terkait klarifikasi dugaan partai politik menerima imbalan dalam proses pencalonan pilkada.

Beberapa bulan kemudian, La Nyalla mendaftarkan diri menjadi sebagai bakal calon anggota DPD RI periode 2019-2024 di Komisi Pemilihan Umum Provinsi Jawa Timur pada bulan Juli 2018.

La Nyalla bersaing dengan 29 nama bakal calon lainnya untuk memperebutkan empat kursi senator yang mewakili daerah pemilihan Jawa Timur.

La Nyalla berhasil meraih lebih dari 2,2 juta suara pemilih pada Pemilu Anggota DPD 2019 di Daerah Pemilihan Jatim.

"Terima kasih kepada rakyat Jatim yang telah memberi kepercayaan kepada saya untuk menjalankan amanah ini," ujarnya seperti dikutip dari tagar.id

Berdasarkan data salinan yang diperoleh dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Jawa Timur, La Nyalla mendapatkan total 2.267.058 suara.

Raihan tersebut menempatkan mantan Ketua Umum PSSI itu duduk di peringkat kedua setelah Evi Zainal Abidin yang meraup 2.416.663 suara.

Selain La Nyalla dan Evi Zainal Abidin, dua calon anggota DPD lainnya yang dinyatakan lolos dari Dapil Jatim adalah Ahmad Nawardi (1.414.478 suara) dan Adilla Azis (1.322.755 suara).

Menurut La Nyalla, perolehan suara yang diraihnya merupakan amanah berat. Ia memohon restu dari rakyat Jatim serta berjanji tidak akan mengkhianati kepercayaan tersebut.

Salah satu program utama ke depan yang diusungnya adalah penguatan ekonomi rakyat berskala kecil dan mikro di Jawa Timur, serta berjanji akan menyinergikan program itu dengan berbagai pemangku kepentingan.

"Advokasi kebijakan di tingkat pusat akan membuka banyak jalan bagi kesejahteraan masyarakat Jatim. Insya Allah banyak jalan yang kami perjuangkan bareng warga Jatim," ucapnya. (RED)