Pasar Obral Jadi Polemik, Safriwan: Urusan Lapak Sudah Kami Serahkan Pihak Ketiga

Pasar Obral Jadi Polemik, Safriwan: Urusan Lapak Sudah Kami Serahkan Pihak Ketiga
Pasar Obral Tanjabbar (Heri/brito.id)

BRITO.ID, BERITA TUNGKAL - Pasar obral di jalan Jenderal Sudirman atau yang dikenal Jalan Sriwijaya terus menuai polemik. Pasalnya, selain dikeluhkan pedagang lokal, harga sewa lapak dinilai sangat mahal yang membuat pedagang menjerit. 

keberadaan pasar juga dinilai menganggu penguna jalan. Bahkan menghambat aktifitas warga yang bermukim di sekitar pasar obral. 

Kepala Dinas Diskoprindag Safriwan menjelaskan, jika sebelumnya sudah menyampaikan ke pihak Kelurahan hingga dalam rapat panitia kegiatan. 

"Kalau dak salah kita sudah menyurati Camat sampai kelurahan untuk mensosialisasikan kegiatan ini untuk mengajak masyarakat dalam memeriahkan kegiatan tahunan ini," jelasnya saat dihubungi dia ponselnya (31/7).

Dia menjelaskan, Pemkab menyediakan tanda lapak sebanyak 50 unit, dengan sewa setiap tenda sebesar Rp 2,5 juta. Untuk saat ini sudah terisi sekitar 220 lapak, batas waktu hingga tanggal 8 Agustus. 

"Jadi semua diserahkan kepihak ketiga untuk urusan lapak, kita hanya meminta retribusi perlapak sebesar Rp 100 ribu hingga selesai. 100 ribu sudah masuk dalam retribusi kebersihan dan keamanan," Katanya. 

Salah satu pedagang mengaku jika harga sewa tenda untuk lapak dinilai sangat besar. Menurutnya dengan harga sewa Rp2,5 juta sudah termasuk retribusi didalamnya, tetap saja bagi para pedagang kemahalan.

"Lah banyak sudah keliling di Pasar obral, hanya di Kualatungkal lah yang paling mahal. Karena sudah terlanjut ke sini mau tak mau ikutin peraturan," keluh pria yang enggan disebut namanya.

Sementara Rudy salah satu warga sekitar mengaku kesulitan beraktivitas. Sebab untuk memakirkan kendaraan terpaksa harus jauh dari rumah. 

"Ya mau tak mau kalau parkir jauh dari rumah. Lagian kalau mau angkat barang harus di langsir, jadi lambat soalnya kerja dua kali," tukasnya. (Red)

Kontributor : Heri Anto