Pilih Umroh! Bupati Aceh Selatan Mirwan MS Disorot Ketika Daerahnya Dilanda Banjir Bandang
BRITO.ID, BERITA ACEH SELATAN – Bupati Aceh Selatan, Mirwan MS, menjadi sorotan publik setelah kabar keberangkatannya ke Arab Saudi untuk menjalankan ibadah umrah viral di media sosial. Keberangkatannya menuai kritik karena dilakukan pada saat wilayah Aceh Selatan tengah menghadapi banjir bandang dan longsor yang melumpuhkan sejumlah kecamatan.
Informasi keberangkatan tersebut pertama kali terlihat dalam unggahan salah satu agen travel umrah. Dalam unggahan itu Mirwan tampak berfoto bersama istrinya dengan keterangan bahwa keberangkatan dilakukan bertepatan dengan ulang tahun sang istri. Publik pun bereaksi keras dan mempertanyakan sensitivitas seorang kepala daerah terhadap kondisi warganya yang sedang tertimpa musibah.
Kontroversi semakin meningkat setelah beredar surat resmi yang ditandatangani Mirwan MS dua hari sebelum keberangkatannya. Dalam surat bernomor 360/1315/2025 itu, ia menyatakan bahwa Pemkab Aceh Selatan tidak sanggup menangani darurat bencana tanpa dukungan dari Pemerintah Aceh. Surat tersebut juga memuat rincian dampak bencana yang meluas di 11 kecamatan, seperti akses transportasi yang terputus, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada layanan publik dan kesehatan.
Publik menilai situasi tersebut semestinya memerlukan kepemimpinan penuh dan kehadiran langsung bupati di lapangan. Kritik pun datang dari berbagai pihak, mulai dari warga, aktivis, hingga tokoh politik daerah.
Menanggapi polemik tersebut, Mirwan MS memberikan klarifikasi melalui akun media sosialnya. Ia menyatakan telah meninjau langsung lokasi terdampak di Trumon empat hari sebelum keberangkatannya dan menilai kondisi sudah membaik. Namun penjelasan tersebut masih dianggap tidak cukup oleh sebagian besar masyarakat yang tetap mempertanyakan prioritas seorang pejabat publik di masa krisis.
Mirwan MS lahir pada 9 Maret 1975 dan resmi memimpin Aceh Selatan sejak Februari 2025. Sebelum terjun ke politik, ia aktif di dunia usaha dan sejumlah kegiatan sosial. Namun langkahnya meninggalkan daerah saat bencana tengah berlangsung dinilai sebagian pihak sebagai citra buruk bagi kepemimpinan daerah.
Sejumlah komentar keras juga muncul dari tokoh politik Aceh yang menilai pemimpin daerah harus hadir dan bekerja bersama masyarakat dalam masa sulit. Mereka menilai seorang kepala daerah tidak semestinya menunjukkan sikap seolah “angkat tangan” terhadap bencana.
Polemik ini menegaskan kembali pentingnya sensitivitas dan empati pemimpin ketika bencana terjadi. Di tengah kondisi darurat, kehadiran seorang bupati di lapangan bukan hanya soal administrasi, tetapi juga menyangkut moral publik yang membutuhkan dukungan dan rasa aman.
(Sumber: tvOnenews.com

Ari W