Pratikno Hanya Berupaya Meredam Isu Reshuffle, Begini Penjelasan Pakar Gestur

Menteri Sekretaris Negara Pratikno menyatakan isu kocok ulang (reshuffle) kabinet sudah tidak relevan lagi karena para menteri sudah bekerja semakin bagus. Namun pakar menilai Pratikno hanya meredam isu, sedangkan isu reshuffle sendiri sebenarnya masih relevan.

Pratikno Hanya Berupaya Meredam Isu Reshuffle, Begini Penjelasan Pakar Gestur

BRITO.ID, BERITA JAKARTA - Menteri Sekretaris Negara Pratikno menyatakan isu kocok ulang (reshuffle) kabinet sudah tidak relevan lagi karena para menteri sudah bekerja semakin bagus. Namun pakar menilai Pratikno hanya meredam isu, sedangkan isu reshuffle sendiri sebenarnya masih relevan.

"Ini lebih tepat dikatakan sebagai peredaman isu. Kalau tidak ada isu yang hendak diredam, maka segala ekspresi wajah, gestur tangan, hingga pengulangan kata seperti itu tidak akan muncul," kata pakar gestur, Handoko Gani, dalam keterangannya kepada detikcom, Senin (6/7/2020).

Handoko Gani menjelaskan dirinya adalah satu-satunya instruktur Ahli Deteksi Kebohongan dari dunia sipil yang memiliki gelar diploma di bidangnya, serta terotorisasi dalam penggunaan alat Layerd Voice Analysis (LVA).

Dia menyoroti saat Pratikno menyampaikan kata "bagus" sebanyak empat kali dalam momentum yang pendek. Konteksnya, Pratikno menekankan bahwa isu reshuffle sudah tidak relevan karena pemerintahan sudah semakin bagus. Berikut adalah kata-kata yang diucapkan Pratikno.

Isu reshuffle tidak relevan sejauh bagus terus. Sekarang ini sudah bagus, semoga bagus terus, tentus aja kalau bagus terus ya nggak relevan lagi reshuffle.

Menurut kacamata Handoko, kenyataan yang sebenarnya bisa jadi bertolak belakang dengan yang disampaikan Pratikno.

"Empat kali kata 'bagus' ini artinya masih ada kemungkinan reshuffle kalau tidak bagus. Cuma ketika beliau menyebut itu nggak ada isu, itu bukan hal yang tepat. Isunya akan tetap ada dan relevan ketika kinerja kabinet tidak bagus," kata Handoko.

Dia mencermati, Pratikno sempat memperagakan Facial Action Coiding System (FACS) AD 19 C, berupa melet lidah, sambil berkata, "Ampun", saat mengawali pembahasan soal reshuffle. Kemudian Pratikno mengetuk-ngetukkan jarinya.


Saat pratikno berbicara soal "dampak ekonomi yang sangat berat", jari Pratikno mengetuk. Ketukan jari yang kuat dilakukan Pratikno saat berbicara "momentum fundamental reform".

"Gerakan ketukan, artinya stressing point oleh pembicara. Poin-poin ini bisa olahan berdasarkan catatan, bisa juga berasal dari bawah sadar pembicara," kata Handoko.

Pratikno juga dilihatnya tidak nyaman dengan isu-isu tertentu. Indikasinya, Pratikno mengeluarkan ekspresi suara "ehm..., eh," atau "apa..." sebelum meneruskan pembicaraan.

Isu itu adalah soal kantor yang tidak optimal saat transisi pemerintahan di awal kabinet, soal teguran keras dari Jokowi kepada para menteri, soal permasalahan ekonomi di masyarakat, soal bantuan sosial, hingga soal serapan anggaran.

Pratikno juga merobek-robek sesuatu, seperti memilin-milin kertas atau sobekan lembaran kecil di jarinya. Ini dia lakukan saat berbicara mengenai bantuan sosial.

"Kalau memilin-milin kertas itu adalah kebiasaan, itu pasti setiap segala penjelasan pasti memilin kertas. tapi ini tidak, ini hanya dia lakukan saat menjelaskan soal reshuffle," kata Handoko.

"Itu adalah upaya meredam ketidaknyamanan diri sendiri dan ketidaknyamanan masyarakat terhadpa isu reshufle. Pernyataan beliau (Pratikno) itu sebetulnya berusaha menenangkan, tetapi Presiden tetap serius dengan ancaman reshuffle-nya, itu kalau kinerja menterinya tidak bagus," kata Handoko.

Sumber: detikcom
Editor: Ari