DAK Rp3.6 Milliar Tak Terserap, Dirut RSUD Sebut UTDRS Tak Boleh di RS Tipe C

DAK Rp3.6 Milliar Tak Terserap, Dirut RSUD Sebut UTDRS Tak Boleh di RS Tipe C
Dirut RSUD Ahmad Ripin Dr Ilham. (Romi/brito.id)

BRITO.ID, BERITA MUAROJAMBI - Sejumlah Rp3,6 milliar Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun anggaran 2018 lalu di Dinas Kesehatan tak terserap. Ternyata, dana itu merupakan Dana Tugas Perbantuan (TP) dari Kementerian Kesehatan yang dialokasikan untuk Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ahmad Ripin Sengeti. 

"Iya itu namanya dana TP. Bukan usulan dari kita tapi dana luncuran dari pemerintah pusat," ungkap Dirut RSUD Ahmad Ripin Dr Ilham, Rabu (9/10/19).

Dijelaskan Dirut, Rp3,6 milliar dialokasikan untuk rehab Unit Transfusi Darah Rumah Sakit (UTDRS). Pihaknya memilih untuk tidak melakukan kegiatan tersebut karena beberapa  argumentasi dan alasan.

"Pertama judul kegiatannnya salah. Di situ rehab sedang jumlah anggaran sesuai untuk membuat bangunan baru," cetusnya.

Terhadap argumentasi ini, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinkes Provinsi Jambi dan Kemenkes RI, untuk merubah judul kegiatan tersebut. Hasilnya, pihak terkait bilang itu sudah sesuai dengan Desk yang ditetapkan jadi tidak bisa diubah.

"Kita koordinasi dan hasilnya tidak bisa diubah," kata dia.

Lebih lanjut  Dirut mengatakan pihaknya melakukan diskusi dan koordinasi bersama dengan dokter Patologi Klinik. Mencari dasar hukum pengerjaan UTDRS, apakah bisa dilaksanakan pada Rumah Sakit dengan klasifikasi type C.

"Kita diskusi dan cari dasar hukumnya boleh tidak. Ternyata, dalam aturannya, UTDRS itu untuk rumah sakit type B. Sementara kita masih type C," terangnya.

Tak hanya itu, pertimbangan lainnya adalah ketersedian personil. Di mana, untuk mengoperasikan UTDRS haruslah punya tenaga khusus. Sementara, hingga saat ini pihak RSUD Ahmad Ripin belumlah memiliki tenaga khusus yang bisa mengoperasikannyan

"Yang mengoperasikam harus ada tenaga khusus, dan tenaga khusus ini haruslah PNS, bukan TKS. Selain itu, kebutuhan darah kita belum mencukupi syarat minimal untuk pengadaan UTDRS yakni 1000 kantong per tahun. Kebutuhan darah kita masih jauh dari kisaran itu. Nah, itulah beberapa argumentasi kami, makanya kami memilih tidak melakukan kegiatan tersebut," pungkasnya. (RED)

Kontributor : Romi