Dampak Covid-19, Ribuan Karyawan PT SGS Muarojambi Dirumahkan

Akibat dampak dari pandemi Corona Virus Disease (Covid-19), ribuan karyawan PT SGS dirumahkan. PT SGS sendiri adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri kayu di Desa Sarangburung Kecamatan Jambi Luar Kota Kabupaten Muarojambi.

Dampak Covid-19, Ribuan Karyawan PT SGS Muarojambi Dirumahkan
Aktivitas Karyawan PT SGS (Raden Romi/BRITO.ID)

BRITO.ID, BERITA MUAROJAMBI - Akibat dampak dari pandemi Corona Virus Disease (Covid-19), ribuan karyawan PT SGS dirumahkan. PT SGS sendiri adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri kayu di Desa Sarangburung Kecamatan Jambi Luar Kota Kabupaten Muarojambi.

"Baru satu perusahaan yang melaporkan ke kita, yaitu PT SGS. Mereka merumahkan karyawannya sebanyak 2038 orang karyawan," sebut Kasi Hubungan Industrial Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muarojambi  Muhammad Amin Rabu (8/4/20).

Dijelaskan Amin, kendati dirumahkan, pihak perusahaan tetap membayarkan upah karyawannya. Upah yang dibayar sebesar 50 persen dari gaji. Angka tersebut diambil dari hasil kesepakatan antara manajemen perusahaan dengan pengurus serikat pekerja yang sudah bekerjasama dengan pihak perusahaan.

"Yang disampaikan ke kita mereka tetap membayarkan gajinya, tapi hanya setengah gaji atau 50 persen," kata Amin. 

Dikatakannya, ribuan karyawan yang dirumahkan itu murni dampak dari pandemi Covid19 yang berakibat pada hasil penjualan mereka yang jauh menurun.

"Akibat pandemi Covid19 ini, penjualan Produksi mereka turun drastis, jadi mereka terpaksa merumahkan karyawannya hingga 10 Mei mendatang," tandasnya.

Sementara itu terkait perusahaan lainnya yang ada di Muarojambi hingga hari ini belum ada yang merumahkan karyawannya.

"Kalau perusahaan di bidang perkebunan sudah kita konfirmasi juga, tapi belum ada yang merumahkan karyawannya, semua masih berjalan normal, dan untuk PHK sendiri hingga hari ini belum ada laporan perusahaan yang melakukan PHK," tutupnya.

Sementara Humas PT SGS Budi membenarkan perusahaan tempatnya bernaung merumahkan ribuan karyawannya. Ini semua murni karena dampak Corona yang sudah menjadi Pandemi saat ini.

"Tapi gaji mereka tetap dibayar hanya separuh, dan ini murni karena dampak Corona dan juga mengikuti Imbauan pemerintah soal social Distancing dan di rumah saja," kata Budi singkat.

Penulis: Ega Roy

Editor: Rhizki Okfiandi