Debat Sengit Soal Pemilu 2009 PDIP Versus Demokrat, Elite Demokrat: Hasto Gagal Move On Menerima Kenyataan Paslon Kalah Telak

PDIP tengah berdebat panas dengan Partai Demokrat. Debat panas itu berkaitan dengan Pemilu 2009. Debat panas terkait Pemilu 2009 itu berawal dari sentilan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto ke Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Hasto kala itu membandingkan rapat era Jokowi dengan SBY.

Debat Sengit Soal Pemilu 2009 PDIP Versus Demokrat, Elite Demokrat: Hasto Gagal Move On Menerima Kenyataan Paslon Kalah Telak
Hasto dan Kamhar (istimewa/kolase)

BRITO.ID, BERITA JAKARTA - PDIP tengah berdebat panas dengan Partai Demokrat. Debat panas itu berkaitan dengan Pemilu 2009.

Debat panas terkait Pemilu 2009 itu berawal dari sentilan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto ke Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Hasto kala itu membandingkan rapat era Jokowi dengan SBY.

Dia menyebut, rapat Jokowi selalu diakhiri dengan pengambilan sebuah keputusan. Hal itu, kata Hasto, berbeda dengan pemerintahan 10 tahun sebelumnya yang terlalu banyak rapat namun tidak mengambil keputusan. Seperti diketahui, sebelum Jokowi, SBY menjadi Presiden RI selama 10 tahun.

Tak terima, Demokrat melalui elitenya, Kamhar Lakumani balas menyerang. Sindiran berbalas sindiran pun dilontarkan Hasto dan Kamhar. Buntutnya, Hasto menyinggung soal Pemilu 2009.

Ada Kecurangan Masif

Hasto menuturkan secara kualitatif terjadi kecurangan secara masif saat Pemilu di era SBY. Dia mengatakan ada manipulasi pada data daftar pemilih tetap (DPT) Pemilu 2009.

"Kemudian aspek kualitatifnya, bagaimana penyelenggaraan pemilu. Pada 2009 itu kan kecurangannya masif, dan ada tokoh-tokoh KPU yang direkrut masuk ke parpol hanya untuk memberikan dukungan elektoral bagi partai penguasa. Ada manipulasi DPT dan sebagainya," kata Hasto di DPP PDI Perjuangan, Sabtu (23/10/2021).

Hasto pun menyebut perlu ada kajian akademis agar perbandingan kinerja antara SBY dan Jokowi menjadi objektif. Dia kemudian menawarkan beasiswa kepada siapa pun yang bersedia mengkaji kinerja kepemimpinan SBY dengan Jokowi.

"Saya pribadi menawarkan beasiswa bagi mereka yang akan melakukan kajian untuk membandingkan antara kinerja dari Presiden Jokowi dan Presiden SBY. Sehingga tidak menjadi rumor politik, tidak jadi isu politik, tapi berdasarkan kajian akademis yang bisa dipertanggungjawabkan aspek objektivitasnya," ujarnya.

Belum Move On

Membalas serangan Hasto, Kamhar menyebut politikus PDIP itu belum move on dari kekalahan. Menurutnya, Hasto hanya ingin mengalihkan topik. Kamhar juga menyebut Hasto tak memiliki integritas untuk membicarakan netralitas KPU dalam pemilu di era SBY.

"Apalagi Hasto kembali mengalihkan topik dari polemik tentang pengambilan keputusan Presiden Jokowi dan presiden pendahulunya ke persoalan Pemilu 2009. Hasto gagal move on untuk menerima kenyataan Paslon yang diusung partainya kalah telak saat Pilpres dalam satu putaran," ujar Kamhar dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (23/10/2021).

"Publik masih ingat kontestasi Pilpres 2009 diikuti 2 incumbent, selain Pak SBY juga ada Pak JK yang berpasangan dengan Pak Wiranto. Jadi tak mungkin menggunakan pendekatan kekuasaan. Hasil-hasil survei dari seluruh lembaga survei juga tak jauh berbeda dengan hasil Pemilu saat itu yang memenangkan SBY-Boediono. Jadi Hasto tak usah buat argumen yang ngawur dan so intelek tapi tak punya justifikasi, hanya ilusi," tuturnya.

Hasil Pilpres 2009

Pada Pemilu 2009, SBY kembali maju sebagai calon presiden. Namun kali ini dia menggandeng pasangan berbeda, Boediono. Mantan wakilnya, Jusuf Kalla, berubah menjadi lawan karena maju bersama Wiranto. Satu lawan lagi yakni pasangan Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto.

Meski diikuti oleh tiga pasangan calon, Pilpres 2009 hanya berjalan satu putaran. Sebab, SBY-Boediono meraih suara signifikan dibandingkan dua pasangan lawannya. Kala itu, SBY-Boediono meraup suara 73.874.562 (60,80%), jauh meninggalkan lawannya Megawati-Prabowo yang meraih suara 32.548.105 (26,79%) dan JK-Wiranto 15.081.814 (12,41%).

Pileg 2009

Sementara, pada Pemilu Legislatif (Pileg) 2009, Partai Demokrat sebagai partai penguasa sebelumnya kembali menang. Demokrat sukses meraih suara terbanyak.

Dari hasil perhitungan suara final di Komisi Pemilihan Umum (KPU), PD mendapat 21.703.137 suara (20,85 persen) diikuti berturut-turut oleh Golkar dengan 15.037.757 suara (14,45 persen) dan PDIP yang meraih 14.600.091 (14,03 persen).

Posisi papan tengah diisi berurutan oleh PKS, PAN, PPP, PKB, Gerindra, Hanura. Total suara sah nasional mencapai 104.099.785 suara dengan jumlah orang yang tidak menggunakan hak pilihnya sebesar 67.058.882 suara.

Berikut ini parpol yang lolos Parliamentary Threshold dan Perolehan Kursi dalam DPR Pemilu Legislatif 2009:

1. Partai Demokrat, 21.703.137 suara (20,85 persen)

2. Golkar, 15.037.757 suara (14,45 persen)

3. PDIP, 14.600.091 suara (14,03 persen)

4. PKS, 8.206.955 suara (7,88 persen)

5. PAN, 6.254.580 suara (6,01 persen)

6. PPP, 5.533.214 suara (5,32 persen)

7. PKB, 5.146.122 suara (4,94 persen)

8. Gerindra, 4,646.406 suara (4,46 persen)

9. Hanura, 3.922.870 suara (3,77 persen)

Sumber: detikcom

Editor: Ari