Imbas Corona, Jahe Merah Diburu Masyarakat, Mulai Langka di Pasaran

Imbas Corona, Jahe Merah Diburu Masyarakat, Mulai Langka di Pasaran
Pedagang Jahe Merah di Pasar Tradisional Kualatungkal (Heri Anto/BRITO.ID)

BRITO.ID, BERITA TANJAB BARAT- Sejak timbulnya virus Covid 19 dan himbauan pemerintah untuk membatasi aktifitas diluar rumah dan menjaga pola hidup sehat dengan mengkonsumsi makan minum sehat, ternyata berdampak pada harga harga beberapa komoditi seperti Jahe merah.

Jahe salah satu tanaman yang banyak digunakan sebagai bahan herbal dan sebagai salah satu bumbu masak kini mulai langka di pasar tradisional Kualatungkal. Bahkan harganya mencapai Rp 58 ribu/kg untuk jenis Jahe merah. Padahal harga normal hanya Rp Rp 25 Ribu hingga Rp 30 ribu/kg.

Murni, salah satu ibu rumah tangga kepada Brito.id mengaku kesulitan mencari Jahe di pasar. Selain langka, harga beli Jahe Merah mencapai Rp 55 ribu/kg.

Ia mengaku, jahe dan beberapa campuran Kunyit, kayu Manis, dan beberapa tanaman lainnya rencananya d buat ramuan tradisional dengan cara diminum guna memperkuat Imunitas dalam tubuh.

"Iya jahe di pasar mencapai Rp 55 ribu/kg. Kalau jahe putih cuma Rp.40 ribu/kg. Sementara laos, ketumbar, juga naik tapi tidak terlalu mahal," Katanya, Senin (23/3/2020).

Salah satu pedagang di pasar tradisional Kualatungkal Bude mengaku untuk stok Jahe merah sudah habis terjual. Kenaikan harga kata dia, bukan karna langkanya stok melainkan banyaknya permintaan.

"Kita mesan harganya naik, alasan agen banyak yang mesan. Mau tak mau kita jual harga sesuai pengambilan. Untuk komoditi lain seperti, kayu manis, buah pala, daun serai, kunyit hingga kayu manis juga mengalami kenaikan dari Rp 2000/Kg sampai 3000/kg" terangnya.

Ia juga mengaku sejak adanya himbauan pemerintah terkait virus Corona, omset yang ia dapat juga mengalami penurunan. Walau tidak begitu signifikan, namun ia berharap kondisi ini segera usai dan kembali seperti biasa.

"Kalau pembeli selalu ada tapi tidak seperti hari hari biasa. Untuk sekarang kita maklum juga jangankan orang kita juga was- was," Tukasnya.

Penulis: Heri Anto

Editor: Rhizki Okfiandi