Mobil ketua Panwaslu Rote Ndao dibakar, diduga terkait Pilkada

Mobil pribadi merek Avanza milik Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, Tarsis Toumeluk, Jumat (8/7) dini hari tadi hangus terbakar.

Mobil ketua Panwaslu Rote Ndao dibakar, diduga terkait Pilkada

BRITO.ID - Mobil pribadi merek Avanza milik Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, Tarsis Toumeluk, Jumat (8/7) dini hari tadi hangus terbakar. Mobil itu dibakar usai pleno rekapitulasi hasil pemungutan suara, pemilihan bupati dan wakil bupati setempat.

Kejadian ini diduga dilakukan oleh sekelompok orang tak dikenal dan keterkaitan dengan pemilihan bupati dan wakil bupati, yang saat ini masih berjalan atau belum diumumkan pasangan calon pemenang pilkada.

Menurut ketua Panwaslu Rote Ndao, Tarsis Toumeluk, saat kejadian rumahnya tidak dihuni oleh keluarga, atau dalam keadaan kosong. Bahkan dirinya tidur di kantor, karena masih banyak pekerjaan yang belum terselesaikan. Dirinya pun mengaku dalam beberapa hari terakhir ini sering mendapat teror.

"Memang ancaman sudah beberapa kali ini saya sudah mengalami ancaman-ancaman ini tapi, tidak langsung ke saya didengar oleh orang-orang tapi pada waktu demo di kabupaten, panwas itu sudah ada ancam-ancaman, katanya kalau ketemu ketua Panwas kami bakar di jalan. Itu memang saya dengar, karena mereka teriak-teriak di jalan. Terus ada yang datang intimidasi anak saya, katanya ini mobilnya ketua panwas, anak saya bilang ini mobil polisi, trus bilang sama dia hati hati e katanya," ujar Tarsis meniru kalimat-kalimat ancaman itu, Jumat (6/7).

Bawaslu NTT meminta pihak kepolisian agar segera mengusut hal ini, sehingga oknum di balik kejadian ini bisa terungkap. Lantaran menurut juru bicara Bawaslu NTT, selain di Rote Ndao, di Kabupaten Sumba Barat Daya, rumah ketua panwaslu juga dirusak oleh sekelompok orang tak dikenal.

"Kami menduga peristiwa ini terkait dengan proses pemilihan yang ada di Kabupaten Rote Ndao, karena sebelum kejadian ada beberapa oknum yang sempat mengintai rumah ketua panwas dan juga melakukan intimidasi secara langsung kepada ketua panwas. Kami berharap aparat kepolisian di Rote Ndao bisa bergerak cepat, untuk menangani kasus ini karena sesungguhnya proses pilkada di Rote Ndao sendiri belum selesai, yang baru selesai itu tahapan rekapitulasi hasil bahkan penetapan hasil sendiri belum dilakukan karena belum waktunya.

Selain di Rote Ndao, kejadian yang sama juga terjadi di kabupaten Sumba Barat Daya di mana rumah ketua panwaslu diserang dini hari tadi juga, kaca kaca rumahnya dipecahkan semua beberapa bagian rumahnya juga rusak, kami berharap kedua kasus ini segera ditangani secara cepat, agar kami penyelenggara pemilu bisa kerja mengawasi proses pilkada lebih leluasa dan aman," ungkap Jemris.

Pihak Kepolisian Resor Rote Ndao telah melakukan sterilisasi lokasi kejadian, dengan memasang garis polisi. Beberapa orang saksi juga sudah dimintai keterangan guna mengusut tuntas kasus ini.

"Untuk para penyerang sendiri sudah dilakukan atau dibentuk tim jadi dari Kapolres Rote Ndao sendiri pak Muri sudah membentuk tim untuk melakukan penyerangan, kemudian sudah melakukan olah TKP, juga untuk lokasi kita sudah tutup steril dan mudah mudahan kita secepatnya mengungkap siapa pelaku pembakaran ini. Untuk rumah secara melekat tentunya tidak dijaga aparat, karena yang bersangkutan tidak berada disitu, tapi untuk yang bersangkutan sendiri ketika keliling, ketika kemana-mana tentunya kita dampingi dari pihak petugas, dari Polres Rote akan melekat," jelas Kabid Humas Polda NTT, Kombes Pol Jules Abraham Abas.

Untuk diketahui, pemilihan bupati dan wakil bupati Kabupaten Rote Ndao diikuti oleh empat pasangan calon. Yang sementara memimpin perolehan suara yakni paket Lentera atau pasangan Paulina Haning Bullu - Stefanus Saek.

Sementara di Kabupaten Sumba Barat Daya, diikuti oleh tiga pasangan calon yang hari ini sedang melakukan rekapitulasi perolehan pemungutan suara di tingkat KPUD setempat.