Novel Sebut Masyarakat Muak Melihat Praktik-praktik Korupsi yang Menjalar di Negara Ini: Pelakunya Tak Bisa Tersentuh

Bekas penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, mengatakan para koruptor lama bersabar menunggu momen yang tepat untuk pelemahan lembaga anti rasuah itu. "Saya mau katakan koruptor itu memang telah bersabar sekian lama untuk menunggu masa dimana waktu yang tepat, untuk melakukan pelemahan bahkan mematikan semangat pemberantas korupsi," tutur Novel dalam video yang diunggah di kanal YouTube-nya, Minggu (17/10).

Novel Sebut Masyarakat Muak Melihat Praktik-praktik Korupsi yang Menjalar di Negara Ini: Pelakunya Tak Bisa Tersentuh
Novel Baswedan. (Istimewa)

BRITO.ID, BERITA JAKARTA - Bekas penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, mengatakan para koruptor lama bersabar menunggu momen yang tepat untuk pelemahan lembaga anti rasuah itu.

"Saya mau katakan koruptor itu memang telah bersabar sekian lama untuk menunggu masa dimana waktu yang tepat, untuk melakukan pelemahan bahkan mematikan semangat pemberantas korupsi," tutur Novel dalam video yang diunggah di kanal YouTube-nya, Minggu (17/10).

Upaya pelemahan KPK, katanya, terjadi secara sistematis, namun selalu gagal lantaran lembaga ini mendapat banyak dukungan publik.

Masyarakat muak melihat praktik-praktik korupsi yang menjalar di negara ini, kata Novel.

"Kita tahu pelaku-pelakunya tidak pernah bisa tersentuh," lanjutnya.

Saat lembaga anti-korupsi itu menangani kasus-kasus besar, pelan-pelan dukungan masyarakat sengaja dijauhkan dengan mengembuskan isu radikal di internal KPK.

Mulanya, Novel dan rekan-rekannya di KPK tak ingin terkait pembahasan tersebut sebab menurutnya isu itu hanya kebohongan dan jauh dari fakta, mengingat di lembaga ini ada beragam pemeluk agama dan etnis.

"Bayangkan, ketika disebut itu radikal, atau Taliban, atau apapun itu seolah-olah hanya satu di KPK: hanya orang Muslim saja yang bekerja. Padahal tidak begitu," tegasnya.

Isu itu disebut berhasil memecah belah dan memiliki dampak yang luar biasa.

Persepsi itu kemudian dijadikan seolah-olah terdapat proses yang tidak benar di KPK terkait penyadapan yang bermasalah.

"Padahal proses di KPK itu prudent [hati-hati], di KPK proses terkait penindakan check and balance begitu kuat," ucap Novel lagi.

Novel sadar betul pekerjaannya sebagai pemberantas korupsi memiliki banyak risiko, salah satunya berupa serangan balik.

"Dan orang yang menyerang adalah orang yang punya kekuasaan, punya kekayaan sumber daya ekonomi," lanjutnya.

Risiko ancaman yang dimiliki para pekerja KPK itu membuat mereka mencari pelindungan, salah satunya dengan mendekatkan diri ke Tuhan. Novel mengaku memperbaiki ibadah, terus menjalin komunikasi dengan Tuhan dengan cara berdoa.

Novel merupakan salah satu dari 57 pegawai KPK yang dipecat karena tak lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) pada akhir September lalu.

Usai tak lagi bekerja di KPK, para pegawai yang dipecat itu memilih mengisi waktu dengan berdagang hingga bertani. Sementara Novel memutuskan menghabiskan hari-harinya membuat konten di kanal YouTube.

Ia berharap kanalnya menjadi platform edukasi dan informasi mengenai isu anti korupsi.

Sumber: CNNIndonesia

Editor: Ari