Udara Tidak Sehat, DLH Muaro Jambi Sarankan Siswa Diliburkan

Udara Tidak Sehat, DLH Muaro Jambi Sarankan Siswa Diliburkan
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Muarojambi Firmansyah. (Romi/brito.id)

BRITO.ID, BERITA MUAROJAMBI - Indeks Standart Pencemaran Udara (DLH) di Kabupaten Muarojambi fluktuatif dan cenderung alami peningkatan dalam beberapa hari terakhir. 

ISPU berada pada angka 64 - 94 Mg/L Khusus untuk daerah-daerah perbatasan dan desa yang berdekatan dengan Karhutla, angka ISPU diprediksi di atas 100 Mg/L. 

"ISPU di daerah Sengeti sudah berada diangka 94 Mg/L, kalau di daerah yang dekat dengan Karhutla, ISPU-nya sudah pasti di atas seratus atau dalam kategori tidak sehat," ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup Muarojambi Firmansyah, Selasa (10/9/19).

Atas pertimbangan ini, DLH Muarojambi menyarankan agar anak PAUD, TK dan anak Sekolah Dasar (SD) dari kelas satu hingga kelas tiga untuk diliburkan.

Pihaknya juga sudah mengirimkan surat rekomendasi ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (PdK) Muarojambi.

"Hari ini kita telah menyurati Dinas Pendidikan, surat itu berisi imbauan agar anak sekolah diliburkan," cetusnya.

Firman menyebut, ada lima kecamatan di Muarojambi yang wilayah desanya terjadi kebakaran lahan serta terdampak kebakaran karhutla dari Kabupaten dan Provinsi tetangga. 

Lima kecamatan itu adalah Kecamatan Kumpeh, Kumpeh Ulu, Taman Rajo, Sungaigelam dan Marosebo. 

"Khusus untuk lima kecamatan ini, kita sarankan betul agar Dinas Pendidikan Muaro Jambi segera meliburkan siswa. Soalnya, ISPU di lima kecamatan ini sudah tidak sehat," kata Firman. 

Firman menyebut, daya tahan tubuh anak PAUD, TK dan anak SD kelas satu hingga kelas tiga belum kuat. Anak-anak seusia itu masih sangat rentan terkontaminasi kuman akibat debu dan asap.

"Untuk memperkecil resiko sebagai solusinya harus diliburkan," ujarnya

Selain itu, Firman turut menyarankan agar mengurangi aktivitas di luar rumah, banyak mengkonsumsi air putih dan selalu memakai masker ketika beraktivitas di luar rumah. Saran itu disampaikan Firman terlebih karena kondisi kemarau dan karhutla hingga saat ini belum tertangani sebagai mestinya. (RED)

Kontributor : Romi R