Diduga Penanganan Tak Prosedur, Bayi 4 Bulan Meninggal

Diduga Penanganan Tak Prosedur, Bayi 4 Bulan Meninggal
Pusat informasi pelayanan RS Raudah. (Rhizki/brito.id)

BRITO.ID, BERITA MERANGIN - Pelayanan RS Raudah Bangko Kabupaten Merangin, Jambi disesalkan pasiennya. 

Bahkan akibat pelayanan yang kurang maksimal tersebut, satu pasien bayi berusia 4 bulan harus menghembuskan nafas terakhir.

Kejadian ini dialami oleh Rudi Warga Lorong Kampar Bangko, orang tua dari Hafiz Muhammad Rusli seorang bayi berusia 4 bulan.

Kepada wartawan, Rudi mengatakan pelayanan RS Raudah, sangat tidak memuaskan, mulai dari penanganan pasien hingga pemberian obat kepada pasien.

"Pelayanannya sangat tidak memuaskan, anak saya ditangani kepada Dokter Umum, padahal mereka memiliki dokter spesialis," ungkap Rudi, Rabu (21/8/2019).

Diceritakannya, awal kejadian tersebut, ketika anak ketiganya mengalami diare, sehingga Ia membawa anaknya ke Praktik Dokter Spesialis Anak dr. Joni Uyun yang berada di depan Asrama Polisi.

Ketika berobat, Dokter memberikan obat kepada Rudi, untuk membantu kesembuhan anaknya.

"Anak saya itu mencret, kemudian saya bawa ke Dokter, kemudian saya dikasih obat oleh Dokternya, Obat yang diberikan Dokter, ternyata tak membawa perubahan, sehingga saya memutuskan untuk kembali ke Dokter tersebut," terang Rudi.

"Saat saya kembali, saya dianjurkan Dokter agar anak saya dirawat di RS Raudah. Sementara saat di RS Raudah, ternyata anak saya hanya ditangani oleh Dokter Umum. RS Raudah mengatakan, akan merawat anak saya, dengan cara berkomunikasi 
Lewat telephone dengan Dokter Spesialis, karena saya ingin anak saya sembuh, akhirnya saya pun setuju dengan tindakan tersebut," ujarnya.

Saat disinilah, Rudi merasa pelayanan yang kurang maksimal dari RS Raudah, pasalnya, ketika  anaknya mengalami demam tinggi mencapai 41 derajat celcius tiba-tiba perawat RS Raudah ini memberitakan suntikan.

"Saya bertanya lagi kepada perawat, tolonglah hubungi dokter spesialis anak itu, anak saya sekarang bertambah parah, namun jawaban dari perawat, Dokter spesialisnya tidak bisa dihubungi, dan perawat malah memutuskan untuk menyuntik anak saya melalui saluran infus," ceritanya.

Tak berselang lama, anaknya pun mengalami kejang-kejang, sehingga Ia pun langsung panik, bahkan perawat yang menanganinya pun panik dan menganjurkan ke RSU Bangko.

"Bagaimana dengan anak saya ini, ini tambah parah, dan perawat hanya mengatakan, kalau Dokter tidak ada, dan bahkan menyarankan saya pindah ke RSUD Bangko," katanya.

Tidak sampai disitu, ketika ingin dirujuk ke RSUD, RS Raudah mengatakan tidak menyediakan ambulance, dengan alasan ambulance sedang tidak berada di Rumah Sakit.

"Padahal ambulance ada disamping mobil saya, tetapi karena tidak memikirkan hal itu lagi, saya memutuskan pakai mobil saya saja ke RSUD," ujarnya.

Setelah sesampainya di RSUD, kondisi anaknya semakin parah, dan pihak RSUD meminta rekam medik anaknya, namun tidak diberikan RS Raudah, sehingga pihak RSUD menyarankan, agar anaknya segera dirujuk ke Padang.

"Dokter RSUD minta rekam medik, tapi tidak ada, seharusnya ketika dirujuk ke Rumah Sakit lain, Rumah Sakit awal harus memberikan rekaman medik, ini malah tidak, ini yang sangat saya kesalkan," keluh Rudi.

Penderitaan keluarga Rudi, tidak sampai disitu, saat dibawa ke Padang menggunakan Ambulance RSUD Bangko, sopir ambulance RSUD malah tak juga memberikan pelayanan yang baik, padahal pasien dalam keadaan urgen dan butuh penanganan cepat.

"Di jalan menuju ke Padang, malah sempat-sempatnya sopir ambulance ini mampir-mampir, sehingga ketika sampai di Padang, anak saya sudah tidak ada lagi (meninggal, red)," kesalnya.

Akibat kehilangan anak ketiganya tersebut, Rudi beserta keluarganya merasa terpukul, sehingga Rudi memutuskan akan menuntut pelayanan RS Raudah maupun  RSUD Bangko.

"Saya akan menuntut pelayanan kedua rumah sakit di Merangin terhadap anak saya, nanti saya akan melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian agar hal ini tak terulang lagi," pungkasnya.

Ditempat terpisah, pihak RS Raudah saat akan dikonfirmasi tidak bisa memberikan tanggapan, dikarenakan pihak yang berwenang sedang tidak berada ditempat.

"Mohon maaf bang, pimpinan kami sedang tidak ada, kalau sudah ada nanti, kami akan menghubungi abang," ungkap perawat jaga RS Raudah.

Sementara itu ditempat terpisah, Direktur RS Raudah, dr Wahyuni Utami, yang dikonfirmasi diruangannya, membantah telah melanggar SOP pelayanan Rumah Sakit, pasalnya seluruh SOP telah dilaksanakan dengan baik.

"Semua SOP telah kami laksanakan, walaupun tidak ditangani langsung oleh Dokter Spesialis Anak, namun kompetensi Dokter Umum dalam menangani pasien anak telah mumpuni," ungkap Direktur.

Disebutkannya, ketika seorang pasien bayi yang mengalami mencret dipastikan bayi tersebut mengalami dehidrasi, dan setelah dimasukkan obat, tetapi tidak ada reaksi, itu dikarenakan kompensasi tubuh sang bayi yang tidak maksimal lagi.

"Kita tidak bisa menyamakan satu anak dan anak lain ketika terjadi dehidrasi, ketika sang anak dimasukkan obat, tidak ada reaksi, ini dikarenakan kompensasi tubuh anak tersebut sudah tidak maksimal lagi, dan ini sudah diluar kemampuan medis," ujarnya.

Ketika ditanyakan persoalan rekam medik yang tidak diberikan pihaknya? Ia menyebutkan, rekam medik tersebut bersifat rahasia.

"Rekam medik ini sifatnya rahasia, sehingga kami hanya memberikan surat rujukan ke RSUD Bangko," katanya. (RED)

Kontributor : Rhizki Okfiandi