Lima Pengungsi Tsunami Palu Meninggal, 1 Pasien Titipan RSUD Hanya Makan Mi Instan dan Ubi
BRITO.ID, BERITA GORONTALO - Kondisi Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah tiga hari pascagempa bumi dan tsunami masih miris.
Tercatat 1.682 warga Palu yang mengungsi di halaman Markas Polda Sulteng masih bertahan di lokasi itu, meski kebutuhan logistik makin menipis.
Kondisi terakhir di lokasi pengungsian itu, ada lima orang meninggal di posko akibat luka-luka berat serta sakit lainnya.
Koordinator posko polda setempat, Ahmar F.N, mengungkapkan selain lima orang yang meninggal dunia, ada banyak pasien rujukan dari RSUD Undata Palu yang harus diinapkan di posko itu.
Pantauan langsung wartawan Antara di halaman polda setempat, mereka mengharapkan pasokan makanan untuk memenuhi kebutuhan utama dan mendasar di pengungsian.
Koordinator lapangan medis Polda Sulteng, Mahbub Ahdar, mengakui kondisi kesehatan sejumlah pengungsi menurun karena dukungan logistik atau makanan yang belum optimal.
Bahkan, ada pasien-pasien dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Undata yang dititipkan di posko itu, hanya makan mi instan dan ubi.
Yang dibutuhkan mereka sekarang ini, makanan dan air bersih, toilet yang memadai, pampers untuk orang dewasa dan anak-anak.
Polda juga telah menyiapkan fasilitas berupa tempat dan tenda, distribusi air bersih, penerangan, serta kendaraan operasional yang sangat dibutuhkan pengungsi.
Menurut laporannya, suplai makanan ke pengungsi masih sangat kurang. Sebagian besar pengungsi berasal dari Talise, kampung nelayan, Kelurahan Tondo.
Posko itu juga membantu warga untuk mendapatkan laporan keluarganya yang masih hilang atau belum ditemukan. Berbagai tim terus melakukan evakuasi di semua lokasi terdampak gempa dan tsunami.
"Saat ini kami melihat ada pasokan bantuan makanan yang masuk, belum sempat dibagikan namun sudah diambil oleh warga lainnya," kata Ida, warga lainnya yang berada di Kota Palu.
Pada Jumat (28/9), sekitar pukul 14.00 WIB, gempa pertama kali mengguncang Kabupaten Donggala dan Kota Palu.
Gempa tersebut berkekuatan magnitudo 6 dengan kedalaman 10 kilometer. Akibat gempa itu, satu orang meninggal dunia, 10 orang luka, dan puluhan rumah rusak di Kecamatan Singaraja, Kabupaten Donggala.
Gempa kembali terjadi pukul 17.02 WIB dengan kekuatan yang lebih besar, yaitu magnitudo 7,4 dengan kedalaman yang sama, 10 kilometer, di jalur sesar Palu-Koro.
Gempa tersebut tergolong gempa dangkal dan berpotensi tsunami hingga mengakibatkan kerusakan parah di daerah tersebut, baik infrastruktur jaringan listrik, telekomunikasi, sehingga memutuskan saluran komunikasi dengan daerah tersebut.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga mencatat data sementara jumlah korban meninggal dunia akibat gempa yang disusul tsunami itu, menjadi 832 jiwa.
Kepala Pusat Informasi dan Komunikasi BNPB Sutopo pada konferensi pers di Graha BNPB Jakarta Timur, Minggu (30/9) menyebutkan korban meninggal dunia di Kota Palu tercatat 821 orang dan di Donggala 11 orang. (red)
