3 Saksi Kasus Kredit Fiktif Bank Mandiri Akui Namanya Disalahgunakan

3 Saksi Kasus Kredit Fiktif Bank Mandiri Akui Namanya Disalahgunakan

BRITO.ID, BERITA JAMBI - Sidang kasus dugaan korupsi 5 terdakwa kredit fiktif, yang terjadi di PT Bank Mandiri Persero, KCP Sumber Agung Tebo kembali berlanjut, Senin (11/3).

Kali ini, Jaksa Penuntut Umim (JPU) Kejari Tebo menghadirkan 4 orang saksi. Tiga diantaranya merupakan korban yang namanya dicantumkan untuk pencairan dana. 

Dalam persidangan saksi, Samsir dari BPN Tebo mengatakan sertifikat yang digunakan dalam fakta persidangan tersebut kebanyakan fiktif. "Fotokopi sertifikat ternyata sertifikat tidak pernah terbit," katanya. 

Hal itu ditegaskan setelah dilakukan pengecekan ke lokasi yang sebagaimana dimaksud dalam sertifikat. "Setelah dilakukan pengecekan, sebagian sertifikat selain yang fiktif tersebut tidak ada di Bank Mandiri," ujarnya.

Sedangkan, saksi Rahman yang namanya dicantumkan dalam pencairan fiktif terdakwa, mengatakan KTP yang ada di dalam berkas tersebut bukan miliknya. Bahkan dia juga merasa heran sebab berkas tersebut diserahkan ke bank lainnya. "Bukan KTP saya. Saya pernah mengajukan ke BRI syariah tapi kok ke Mandiri," katanya lagi. 

Kasono saksi lainnya juga heran. Sebab tidak pernah memberikan sertifikat miliknya ke siapa pun. "Tak pernah melakukan kredit, apalagi serah terima sertifikat," katanya. 

Diakuinya, fotokopi KTP yang ditunjukkan ke pada dirinya di persidangan itu miliknya. "KTP itu sama tetapi tidak pernah melakukan kredit," sebutnya.

Dia mengaku saat itu KTP dan dokumen miliknya itu digunakan oleh saudaranya untuk digunakan pinjaman ke Bank BRI Syariah. "Iya saya kasih ke bu Sri (calo peminjaman bank) foto KTP dan perlengkapan lainnya. Sertifikat bukan punya saya," ujarnya. 

Dalam kasus ini para terdakwa secara bersama-sama melakukan tindak pidana korupsi. Mereka mencairkan dana dengan menggunakan data nasabah yang telah lunas kreditnya.

Terdakwa menggunakan fotokopi sertifikat dan data pendukung lainnya pada tahun 2015 dan tahun 2016. Atas perbuatan itu kelima terdakwa merugikan keuangan sebesar Rp2.4 Miliar. (red)