Harga TBS Petani Muarojambi Murah, Pemerintah Kasih Solusi Begini

Harga TBS Petani Muarojambi Murah, Pemerintah Kasih Solusi Begini
Petani sawit di Muaro Jambi. (Romi/brito.id)

BRITO.ID, BERITA MUAROJAMBI - Harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani di Muaro Jambi, masih rendah. Harga TBS hanya sedikit lebih baik dibanding sebelum lebaran 1440 Hijriyah. 

Petani Sawit di Desa Simpang Sungai Duren, Kecamatan Jaluko, Daulat Situngkir mengatakan bahwa harga TBS saat ini sebesar Rp750 per kilogram. Harga itu naik Rp50 jika dibandingkan sebelum lebaran. 

"Sebelum lebaran harga Rp700 per kilo, sekarang naik menjadi Rp750 per kilo," kata Daulat Situngkir kepada BRITO.ID, Sabtu (3/8).

Dengan kondisi harga yang sangat rendah ini, Pria yang berdomisili di jalan Ness ini mengaku tidak bisa melakukan pemupukan. Sebab, penghasilan kebunnya itu tidak mencukupi untuk melakukan perawatan. 

"Terpaksa kita biarkan, mau bagaimana lagi. Kalau dipaksakan dipupuk, hasil kebun habis ke pupuk semua," ujarnya. 

Petani di Desa Pudak, Kecamatan Kumpeh Ulu, Sartono menyampaikan hal senada. Harga TBS di sana malah tidak mengalami kenaikan sama sekali. 

"Harganya masih sama, Rp700 Per kilo, " kata Ading

Kadis Perkebunan dan Peternakan Muaro Jambi, Zulkarnaini mengatakan, merosotnya harga sawit di Kabupaten Muaro Jambi tidak lepas dari harga sawit dunia yang sedang turun. 

Kuatnya isu kerusakan lingkungan yang dilontarkan masyarakat Eropa dan sudah menjadi isu dunia telah disikapi pemerintah pusat dengan menyusun draf undang-undang dan peraturan pemerintah, yang akan menambah kandungan CPO di dalam BBM biosolar hingga 20 persen untuk meningkatkan CPO dalam negeri.

"Pemerintah Provinsi Jambi saat ini juga sedang menyusun draf Perda harga pembelian minimal TBS rakyat dan akan selesai tahun 2019 ini," kata Zulkarnaini. 

Zul menjelaskan ada tiga komoditi hasil perkebunan yang perusahaannya harus terintegrasi dengan pabrik pengolahan, yaitu teh, tebu dan kelapa sawit. 

Terhadap kelapa sawit, untuk mendirikan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) berlaku ketentuan Permentan No 98 tahun 2014, Pasal 11, yang mempersyaratan pendirian pabrik minimal punya kebun sendiri seluas 20 persen dari kapasitas terpasang pabrik. Jika kapasitas terpasang 30 ton giling per jam, maka minimal pabrik punya kebun sendiri seluas 1.200 hektar dan sisanya seluas 4.800 hektar, bermitra dengan petani.

"Untuk kelapa sawit petani yang telah bermitra dengan PKS, pembelian sudah mengikuti harga Disbun Provinsi yang merupakan hasil kesepakatan setiap hari kamis dan hari minggu," urainya.

Zulkarnaini mengatakan, terhadap TBS petani yang tidak bermitra, harga jual tidak dapat ditentukan, karena PKS mengutamakan pengolahan TBS hasil kebun sendiri dan kebun petani mitra mereka. 

Apabila produksi kebun sendiri dan kebun petani mitra tidak mencukupi, barulah PKS tersebut membeli TBS dari luar,  milik orang lain.

"Tentunya dengan harga yang tidak standar, karena mereka tidak diwajibkan membeli bahkan cendrung dilarang karena dikhwatirkan akan merusak sistem yang ada atau sawit hasil illegal, yang berasal dari lahan hutan lindung," kata Zulkarnaini. (RED)

Kontributor : Romi R