Tak Terima Kepala Anaknya Diadu, Pipit Laporkan Kepsek SMP Garut ke Polisi

Tak Terima Kepala Anaknya Diadu, Pipit Laporkan Kepsek SMP Garut ke Polisi

BRITO.ID, BERITA GARUT - Sejumlah siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Baitul Hikmah di Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Jawa Barat, diduga telah menjadi korban penganiayaan oleh kepala sekolah.

"Saya enggak terima, makanya mau lanjut lapor ke polisi," kata Pipit Angraeni (46) perwakilan dari orang tua siswa korban penganiayaan saat mendatangi sekolah Baitul Hikmah, Garut, Sabtu (5/1).

Ia menuturkan, aksi penganiayaan itu bermula diketahui ketika melihat kondisi anaknya mengalami luka pada bagian pelipis yang awalnya dicurigai karena berkelahi.

Namun ternyata, kata Pipit, bahwa luka yang diderita anaknya akibat perbuatan kepala sekolah yang sengaja diduga membenturkan dengan kepala siswa lainnya.

"Dikasih tahu temannya, kalau kepala anak saya diadu-adu sama kepala sekolah," kata Pipit.

Ia mengungkapkan, kasus kekerasan di sekolah tersebut ternyata bukan yang pertama kali, sejumlah siswa lain mengalami hal serupa pernah menjadi korban kekerasan kepala sekolah.

"Teman-teman anak saya juga banyak yang jadi korban," katanya.

Seorang siswa yang menjadi korban penganiayaan kepala sekolah, inisial SO mengaku dianiaya oleh kepala sekolah pada Jumat (4/1) pagi, ketika disangka bercanda saat kegiatan Shalat Dhuha.

"Kepala sekolah yang lihat lalu menggesek-gesekan kepala teman-teman dan saya," katanya.

Selain SO, korban lainnya inisial RG mengalami hal serupa, tetapi tidak sampai terluka, namun perbuatan kasar kepala sekolahnya itu pernah dilakukan kepada siswa lainnya.

"Kadang di (suruh) 'push up', digampar, terus suka lempar-lempar kursi," katanya.

Sementara itu, kedatangan orang tua ke sekolah tersebut didampingi Kepala Polsek Tarogong Kaler Iptu Tito Bintoro, untuk selanjutnya menggelar pertemuan dengan pihak sekolah.

Kepala SMP Baitul Hikmah, Sultan Pahad menyatakan, perbuatannya itu tidak ada unsur kesengajaan, melainkan hanya memberikan teguran saat kegiatan salawatan di masjid sekolah.

"Tidak ada unsur kesengajaan, bahwasannya kejadiannya ketika kita bersalawat di masjid di antara anak itu bercanda," katanya.

Ia menyampaikan, anak yang mengalami luka di pelipis itu memang tidak terlihat bercanda, cuma posisinya berada di antara siswa yng sedang bercanda.

Ia mengaku, sebelumnya tidak mengetahui anak didiknya berdarah pada bagian pelipis, selanjutnya dibawa untuk mendapatkan pengobatan.

Ia berharap, persoalan anak didiknya itu dapat diselesaikan secara kekeluargaan, karena kasus tersebut tidak ada unsur kesengajaan.

"Insya Allah semuanya bisa lebih baik," katanya.

Kepala Polsek Tarogong Kaler Iptu Tito membenarkan adanya keluhan para orang tua tentang anaknya yang diduga menjadi korban penganiayaan kepala sekolah.

"Ya benar, kita masih melakukan pertemuan untuk langkah-langkah selanjutnya bagaimana, mau dilaporkan atau kekeluargaan," katanya. (red)