Jokowi Ngaku Butuh Proses Turunkan Ketimpangan

Jokowi Ngaku Butuh Proses Turunkan Ketimpangan

BRITO.ID, BERITA JAKARTA - Presiden Joko Widodo mengatakan perlu proses untuk menurunkan ketimpangan, kemiskinan, sehingga gini ratio selama empat tahun terakhir ini tidak bisa langsung meloncat.

"Kita ingin juga menurunkan ketimpangan, kemiskinan. Dan empat tahun ini gini ratio turun dari 0,41 jadi 0,38. Memang tidak bisa langsung melompat," katanya saat bicara dalam acara ulang tahun MetroTV yang ke-16 di Jakarta, Senin malam (26/11).

Karena proses gini ratio membesar juga jangka panjang, menurunkan juga butuh waktu, tambah Kepala Negara.

Presiden juga menyebut kemiskinan dari 11,2 persen menjadi 9,8 persen atau menjadi 1 digit juga bukan perkara mudah.

"Kita telah memiliki program keluarga harapan, KIS, KIP, dana desa yang sudah digelontorkan sampai sekarang sudah sampai angka Rp187 triliun, bukan angka yang kecil," ujarnya.

Ia mengatakan untuk membangun infrastruktur-infrastruktur kecil di desa-desa, seperti jalan, jembatan kecil, irigasi, embung kecil di desa, PAUD, posyandu, BUMDes, semuanya dibangun dari dana desa selama 4 tahun sebesar Rp187 triliun.

"Alhamdulilah angka kemiskinan di desa kelihatan turunnya," ungkapnya.

Jokowi juga menyebut pemberdayaan ekonomi kecil terus dilakukan, dimana Kredit Usaha rakyat (KUR) sebelumnya 22 hingga 23 persen telah disubsidi bunganya 7 persen sehingga bisa dinikmati UMKM.

Ia juga mengatakan Bank Wakaf Mikro telah didirikan di Pondok Pensantren, walaupun belum banyak jumlahnya.

"Memang belum banyak baru 30-an, tapi paling tidak kita mulai ekonomi ummat juga perlu diperhatikan," lanjutnya.

Jokowi mengungkapkan bahwa hal-hal tersebut yang telah dilakukan pemerintahannya selama empat tahun terakhir hampir selesai, namun juga yang masih dalam proses penyelesaian.

Selanjutnya, sebutnya tahapan besar kedua adalah pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) karena Indonesia punya kekuatan 260 juta penduduk.

"Ini kekuatan, potensi, kita harus menjamin tumbuh kembang anak sejak di kandungan, program stunting kita dari 37 jadi 30 persen, ini juga perlu waktu untuk menurunkan itu," jelasnya.

Presiden juga menyebut pemberian Kartu Indonesia Pintar sudah diberikan kurang lebih kepada 19 juta pelajar dari keluarga prasejahtera.

"Ke depan, revitalisasi pendidikan vokasi, vocational training kita perkuat dan perbanyak sehingga benar-benar pembangunan SDM benar-benar kelihatan," kata Jokowi. (red)